Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menyatakan bahwa vaksin COVID-19 merek Sinovac aman. Tidak ada efek samping berat yang ditimbulkan berdasarkan uji klinis dan evaluasi.
Demikian juga kaitan antara penggunaan vaksin COVID-19 dan Mpox, para ahli dunia di bidang terkait menyatakan tidak ada hubungannya.
Selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.
==========
Kategori: Konten yang menyesatkan
Beredar sebuah postingan di Facebook dari akun bernama @arga.janu.39, yang mengeklaim bahwa vaksin COVID-19 merek Sinovac terdapat kandungan Vero Cell yang bisa menyebabkan Mpox atau yang sebelumnya disebut cacar monyet.
NARASI:
Yang terkena jenis vaks ini,akan mengalami monkey pox
Nauzubillah tsumma Nauzubillahmindalik
Segera detox vaks
Kandungan dari jenis ini ada verocell yg menjadi kan penyebab monkeypox
Sumber: Facebook
https://www.facebook.com/arga.janu.39/posts/pfbid023xeomRkYCv4S3ikHS8yTdHrcQRjqaCwRoAcWGrCYqj6AqufnKAUyirsxQmGrMLQ6l
Arsip: https://archive.ph/fkcAj
==========
PENJELASAN:
Berdasarkan hasil penelusuran, informasi menyesatkan yang menyebutkan bahwa vaksin COVID-19 buatan Sinovac mengandung vero cell atau sel vero telah telah beredar sejak tahun 2021 dan sudah dibantah oleh Pihak PT Bio Farma. Demikian juga kaitan antara penggunaan vaksin COVID-19 dan Mpox, para ahli dunia di bidang terkait menyatakan bahwa tidak ada hubungannya.
Dalam keterangannya pada konferensi pers, Minggu 3 Januari 2021, Juru Bicara Vaksin COVID-19 PT Bio Farma, Bambang Herianto, menjelaskan bahwa vaksin COVID-19 yang diproduksi oleh Sinovac tidak mengandung sel vero, karena sel tersebut hanya berperan sebagai media kultur yang digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangkan virus selama proses perbanyakan virus sebagai bahan dasar vaksin. Tanpa media kultur ini, virus akan mati dan tidak bisa digunakan untuk produksi vaksin.
Vaksin COVID-19 buatan Sinovac juga dipastikan tidak mengandung bahan-bahan seperti boraks, formalin, merkuri, maupun pengawet. Vaksin yang akan digunakan untuk masyarakat telah melewati tahapan pengembangan dan berbagai uji coba yang ketat, sehingga kualitas, keamanan, dan efektivitasnya terjamin di bawah pengawasan BPOM serta sesuai dengan standar internasional.
Mpox, sebelumnya dikenal sebagai cacar monyet, pertama kali terdeteksi pada monyet di Denmark pada tahun 1958. Kasus manusia pertama dilaporkan di Republik Demokratik Kongo pada tahun 1970, dengan wabah yang terjadi di Afrika Barat dan Tengah.
Penyakit ini dinyatakan sebagai darurat kesehatan global pada tahun 2022 dan telah menyebar ke lebih dari 70 negara.
Sebagai perbandingan, COVID-19 pertama kali muncul pada tahun 2019 di Wuhan, China, dan cepat menjadi pandemi global yang disebabkan oleh virus baru SARS-CoV-2. Saat ini, ilmuwan lebih memahami Mpox dibandingkan COVID-19 saat awal menjadi darurat kesehatan masyarakat.
Ahli mikrobiologi dan imunologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health di AS, Kari Moore Debbink, mengatakan bahwa tidak ada kaitan antara vaksin COVID-19 dan Mpox, dilansir DW.
“Vaksin COVID mRNA digunakan secara global, sementara kasus Mpox biasanya ditemukan di negara-negara tertentu di Afrika, dengan beberapa jumlah kasus rendah di luar wilayah tersebut. Oleh karena itu, tidak ada hubungan geografis antara penggunaan vaksin COVID mRNA dan kasus Mpox,” ujar Debbink.
Pendapat senada juga disampaikan oleh profesor penyakit menular dari Vanderbilt University Medical Center di Nashville, AS, William Schaffner. “Ini adalah dua virus yang sama sekali berbeda, dan tentu saja, vaksin melawan COVID tidak ada hubungannya dengan Mpox.”
Mengutip dari situs Kemenkes, Mpox adalah penyakit yang disebabkan oleh virus monkeypox, yang awalnya ditularkan dari hewan ke manusia dan juga bisa menyebar antar manusia. Pada 28 November 2022, WHO mengganti nama penyakit ini dari monkeypox menjadi Mpox untuk menghindari rasisme dan stigma.
Gejala Mpox meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, lemas, pembengkakan kelenjar getah bening, dan ruam kulit yang berkembang menjadi lesi. Gejala biasanya berlangsung 2-4 minggu dan sembuh sendiri, meskipun dapat menyebabkan komplikasi pada beberapa individu, terutama mereka dengan kekebalan tubuh yang lemah.
Mpox menyebar melalui kontak erat dengan orang yang terinfeksi, termasuk melalui kontak seksual dan lingkungan yang terkontaminasi. Meskipun virus dapat ditemukan dalam cairan tubuh seperti air mani, penelitian masih dilakukan untuk memahami apakah infeksi bisa menyebar melalui cairan tubuh ini.
Direktur regional WHO untuk Eropa, Dr Hans Kluge, dan konsultan spesialis penyakit menular dari Rumah Sakit Universitas Aga Khan, Prof Rodney Adam, sama-sama menjelaskan bahwa kedua penyakit tersebut disebabkan oleh virus, namun memiliki gejala dan penyebaran yang sangat berbeda, dilansir BBC.
Berikut lima perbedaan tersebut:
- Mpox bukan virus baru: Mpox, sebelumnya dikenal sebagai cacar monyet, telah ada sejak 1958 dan telah menimbulkan wabah di Afrika Barat dan Tengah. Berbeda dengan COVID-19 yang merupakan virus baru yang muncul pada 2019.
- Tingkat penularan: Mpox tidak menular secepat COVID-19. COVID-19 menyebar melalui udara, sedangkan Mpox memerlukan kontak dekat yang berkepanjangan, seperti kontak kulit atau melalui benda yang terkontaminasi.
- Vaksin tersedia: Vaksin untuk Mpox sudah ada dan memberikan perlindungan, berbeda dengan COVID-19 di mana vaksin baru dikembangkan setelah pandemi dimulai.
- Kecepatan mutasi: Virus Mpox bermutasi lebih lambat dibandingkan virus SARS-CoV2 yang menyebabkan COVID-19, sehingga lebih stabil dan mudah dikendalikan.
- Respon terhadap penyebaran: Tidak ada indikasi bahwa penyebaran Mpox akan menyebabkan karantina atau penutupan perbatasan, karena gejalanya biasanya ringan dan dapat dikendalikan.
Dengan demikian, klaim narasi dalam unggahan tersebut masuk dalam kategori konten yang menyesatkan.
REFERENSI:
- https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20210103/2036124/disinformasi-vaksin-covid-19-buatan-sinovac-uji-klinik-dan-mengandung-sel-vero
- https://infeksiemerging.kemkes.go.id/penyakit-virus/frequently-asked-questions-faq-mpox
- https://www.pom.go.id/berita/badan-pom-terbitkan-eua-vaksin-coronavac-sinovac-siap-disuntikkan
- https://www.dw.com/id/cek-fakta-tidak-ada-kaitan-antara-mpox-dan-vaksinasi-covid/a-69989053
- https://www.bbc.com/indonesia/articles/cgq24epnqvdo
Leave a Reply