Data dari penelitian ilmiah dan pernyataan resmi otoritas kesehatan menunjukkan bahwa vaksin Covid-19 terbukti aman dan efektif, tidak menyebabkan kematian mendadak, tidak meningkatkan risiko pembekuan darah secara signifikan, dan tidak merusak DNA.
Selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.
==========
Kategori: Konten yang menyesatkan
Beredar sebuah video di Facebook dari akun bernama Raid Bill, yang mengeklaim dampak vaksin Covid-19 menyebabkan 74 persen kematian mendadak, pembekuan darah, serta kerusakan DNA.
Disebutkan juga bagi yang sudah melakukan vaksinasi tapi sekarang masih sehat itu karena beruntung tubuhnya kuat. Bagi yang tubuhnya lemah dianjurkan untuk melakukan detox vaksin.
Sumber: Facebook
https://www.facebook.com/100085815228939/posts/944455027446998
https://www.facebook.com/ireneusz.nawrot/posts/3725350360906064
Arsip:
https://ghostarchive.org/archive/Dyxt5
https://ghostarchive.org/archive/X0KlB
==========
PENJELASAN:
Berdasarkan hasil penelusuran, berbagai sumber tepercaya seperti otoritas kesehatan global dan penelitian ilmiah telah menyanggah klaim mengenai dampak vaksin Covid-19 yang menyebabkan kematian mendadak, pembekuan darah, serta kerusakan DNA.
Klaim kematian mendadak atau sudden cardiac death memang menjadi bahan spekulasi di media sosial sejak vaksinasi Covid-19 dimulai. Salah satu sumber narasi tersebut adalah laporan “The Vaccine Death Report” yang dipublikasikan di laman Stop World Control pada September 2021. Klaim ini beredar kembali di Facebook pada tahun 2024, setelah salinan laporan hasil pemeriksaan terhadap seorang atlet di New Jersey mengaitkan vaksinasi Covid-19 dengan risiko kematian mendadak di lapangan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh berbagai otoritas terkait, menunjukkan tidak ada bukti kuat yang mendukung klaim tersebut. Office for National Statistics dalam laporannya yang berjudul “Analisis kematian setelah vaksinasi COVID-19 dan kematian berlebih selama pandemi pada kaum muda” (2021-2022), menyatakan bahwa tidak ada peningkatan risiko kematian mendadak setelah vaksinasi pada kelompok usia 12 hingga 29 tahun.
Laporan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang dirilis pada 11 April 2024 juga tidak menemukan kaitan antara vaksin Covid-19 dengan kematian mendadak pada remaja dan dewasa muda. FDA turut menegaskan bahwa hasil tinjauan terhadap sertifikat kematian, otopsi, dan rekam medis tidak menunjukkan hubungan sebab akibat antara vaksin dan kematian mendadak.
Lain halnya dengan klaim kasus pembekuan darah, memang sempat menjadi perhatian ketika vaksin AstraZeneca dan Johnson & Johnson ditemukan memiliki risiko efek samping yang sangat jarang berupa pembekuan darah. Menurut laporan European Medicines Agency (EMA) dan CDC, hanya ada empat kasus pembekuan darah dalam satu juta dosis vaksin Johnson & Johnson yang diberikan.
Yazan Abou-Ismail, MD, seorang ahli hematologi dan asisten profesor di Divisi Hematologi & Keganasan Hematologi di Health University of Utah, menjelaskan bahwa pembekuan darah lebih sering terjadi pada pasien yang mengalami infeksi Covid-19 dibandingkan mereka yang sudah divaksin. Para ahli dari Yale Medicine, mengatakan bahwa penderita Covid-19 yang memiliki kondisi medis tertentu lebih rentan mengalami pembekuan darah. Penelitian di jurnal MedRxiv menemukan bahwa risiko pembekuan darah jauh lebih tinggi pada pasien Covid-19 dibandingkan mereka yang telah menerima vaksin mRNA.
Klaim yang paling banyak disebarkan adalah vaksin Covid-19 merusak DNA manusia. Johns Hopkins Medicine menegaskan bahwa vaksin mRNA, seperti Pfizer dan Moderna, tidak mempengaruhi DNA manusia. mRNA bekerja dengan memicu sel untuk membuat protein yang akan merangsang sistem kekebalan tubuh, dan kemudian mRNA tersebut dengan cepat terurai tanpa mempengaruhi DNA.
National Institutes of Health (NIH) juga menegaskan bahwa mRNA tidak memiliki kemampuan untuk berintegrasi atau mengubah DNA manusia. Hal ini didukung oleh National Human Genome Research Institute, yang menjelaskan bahwa tidak ada risiko vaksin mRNA mengubah DNA karena mRNA tidak memiliki kemampuan untuk mengubah DNA. Sel-sel tubuh secara alami selalu membuat mRNA sendiri. mRNA sintetis dalam vaksin bekerja seperti mRNA yang dibuat oleh sel-sel tubuh.
Vaksinasi adalah salah satu cara paling efektif untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita dari penyakit menular. Dengan divaksinasi, kita tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga berkontribusi dalam membangun kekebalan komunitas dan mengakhiri pandemi.
Dengan demikian, klaim narasi dalam video tersebut masuk dalam kategori konten yang menyesatkan.
REFERENSI:
https://cekfakta.tempo.co/fakta/3117/keliru-74-persen-orang-meninggal-akibat-vaksin-covid-19
https://www.cdc.gov/mmwr/volumes/73/wr/mm7314a5.htm
https://www.cdc.gov/mmwr/volumes/73/wr/mm7314a5.htm
https://healthcare.utah.edu/healthfeed/2022/09/blood-clotting-covid-19-and-vaccines
https://www.yalemedicine.org/news/coronavirus-vaccine-blood-clots
https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2021.04.27.21256153v1.full
https://www.genome.gov/about-genomics/fact-sheets/Understanding-COVID-19-mRNA-Vaccines
https://www.genome.gov/about-genomics/fact-sheets/Understanding-COVID-19-mRNA-Vaccines
Leave a Reply