[SALAH] Vaksin Mpox Mengaktifkan Nanopartikel Melalui Sinyal 5G dan Frekuensi Menara

Klaim tersebut sama sekali tidak berdasar dan telah dibantah oleh para ahli.

Selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.

==========

Kategori: Konten yang menyesatkan

Beredar sebuah kolase foto di Instagram dari akun bernama @koresy_michael, berisi klaim yang mengaitkan vaksin cacar monyet (mpox) dengan peningkatan frekuensi sinyal 5G yang dapat mengaktifkan nanopartikel dalam tubuh dan memicu penyakit.

NARASI:

Agenda berikutnya meningkatkan frekuensi untuk mengaktifkan non partikel dalam tubuh. Ini akan menyebabkan cacar monyet dan kemungkinan bisul/luka pada mereka yang telah ditandai dengan vx666ine.

Yang sudah terlanjur vaxx sebaiknya pulang kampung, jauhi tower dan smartphone 5G!

Sumber: Instagram

https://ghostarchive.org/iarchive/instagram/koresy_michael/3451013258528830335 Arsip

==========

PENJELASAN:

Berdasarkan hasil penelusuran, klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah dan hanya bertujuan untuk menimbulkan ketakutan tanpa bukti yang valid.

Menurut Dr. Arif Nur Muhammad Ansori, seorang peneliti virologi dari Universitas Airlangga, klaim tersebut tidak didukung oleh bukti ilmiah. Ia menjelaskan bahwa vaksin cacar monyet, seperti vaksin MVA-BN® yang digunakan di Indonesia, tidak mengandung nanopartikel yang bisa diaktifkan oleh frekuensi 5G. Vaksin ini dirancang untuk merangsang respon imun tubuh melalui komponen seperti antigen, adjuvan, stabilisator, dan pengawet—bukan melalui mekanisme teknologi atau sinyal jaringan.

Vaksin MVA-BN® adalah vaksin turunan dari smallpox generasi ketiga dan telah direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk digunakan dalam pencegahan cacar monyet. Vaksin ini telah melewati berbagai tahap uji klinis yang ketat untuk memastikan keamanannya. Klaim tentang vaksin yang dapat dipengaruhi oleh sinyal 5G adalah murni teori konspirasi yang tidak didasarkan pada penelitian ilmiah.

Dalam konteks penyebaran vaksin, WHO juga telah menyatakan bahwa MVA-BN® merupakan vaksin pertama yang di pra-kualifikasi untuk mpox, artinya vaksin ini telah dinyatakan aman dan efektif berdasarkan standar internasional. Vaksin ini diberikan dalam dua dosis yang terpisah dengan interval empat minggu, dan data menunjukkan efektivitas yang tinggi dalam melindungi individu dari infeksi mpox. Meski seseorang terinfeksi setelah vaksinasi, vaksin tetap mampu mencegah gejala berat dan kebutuhan akan perawatan rumah sakit.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal The Lancet Infectious Diseases oleh Turtle dan Subramaniam pada tahun 2023 juga memperkuat bukti bahwa vaksinasi mpox mampu memberikan perlindungan yang signifikan.

Oleh karena itu, narasi yang menyebutkan bahwa vaksin cacar monyet dapat mengaktifkan nanopartikel melalui sinyal 5G adalah hoaks yang dapat mengganggu upaya penanganan kesehatan publik. Informasi yang tidak berdasar ini menyesatkan masyarakat dan berpotensi merusak kepercayaan terhadap vaksin, yang telah terbukti menjadi salah satu alat paling efektif dalam mencegah penyebaran penyakit menular.

Dalam menghadapi misinformasi ini, sangat penting bagi publik untuk tetap merujuk pada sumber-sumber yang tepercaya seperti WHO dan para ahli yang berbasis pada penelitian ilmiah. Desas-desus yang tidak berdasar hanya akan memperlambat penanganan wabah dan memperburuk situasi kesehatan masyarakat. Fakta-fakta ilmiah jelas menunjukkan bahwa vaksin mpox adalah alat yang aman dan efektif dalam melindungi individu dari penyakit ini, dan tidak ada kaitan dengan sinyal 5G atau nanopartikel yang memicu penyakit.

Dengan demikian, klaim narasi dalam unggahan tersebut masuk dalam kategori konten yang menyesatkan.

REFERENSI:

https://cekfakta.tempo.co/fakta/3122/keliru-klaim-menara-dan-ponsel-5g-menyebabkan-cacar-monyet

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC10275626

https://www.who.int/news/item/13-09-2024-who-prequalifies-the-first-vaccine-against-mpox


Posted

in

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *